Apakah karena aku bertambah tua, tanyamu. Ada bersit gundah. Kukatakan tenang saja, itu biasa. Cumbuan rehat sejenak. Ruang nikmatmu menyempit, pintunya menutup, seperti menolak tamu yang dirindu, padahal aku tahu kau ingin sekali — aku pun sangat, sangat, ingin. Kering. Dipaksakan hanya datangkan iritasi. Dioral hanya akan semakin menguras cairan. Kita rehat. Berpelukan. Tukar cerita dan canda. Batangku mengerut dalam kesantaian. Tetapi nafsu berdua tak mau menipu. Putingmu mengeras lagi. Tititku ngeceng lagi. Aku tahu kau sedikit sisa takut kalau-kalau liang itu tetap kering. Kurasakan ada malu dan perasaan gagal dalam dirimu.
Kutenangkan dirimu dengan bisik mesra dan cumbu lembut agar semuanya mencair. Kubisikkan tentang saliva. Kau tersenyum, mengangguk. Dari kita berdua, kataku. Telapakmu kau basahi berkali-kali dengan ludahmu, lalu kau oleskan ke sana. Aku menambahi. Langsung dari mulutku.
Tibalah saat itu. Pelan, tak langsung mendesak. Sepucuk masuk, lalu keluar. Dua jarimu memegang tititku, memainkannya. Perlahan, melesak, keluar, masuk lagi, akhirnya pol. Seperti pertama kali kehilangan keperawanan, kataku. Betul katamu, tapi yang ini lebih lembut, katamu. Akhirnya lendir alamimu keluar bahkan membanjir. Aku ingin menambahi agar ruang berdinding lunak itu semakin tergenang oleh larutan rindu bersama. Aku sedang tak subur, katamu. Kukecup keningmu. Dalam hening tanpa napas tersengal dan tanpa teriakan jalang kita raih puncak bersama. Spermaku menggenangi liangmu. Sampai tumpah. Kita saling berterima kasih. Berciuman lama, saling meremas. Membiarkan penis mengendur dan tertolak keluar oleh memek yang semakin licin. Kubisikkan yang jarang kuucapkan: aku mencintaimu. Kau hanya mencubit hidungku, lalu mengelus kepalaku, dan kecup keningku. Seprei basah oleh cairan tumpah.