Tiada tabu dalam kebersihan senggama, katamu
Aku datang selagi kau selesai berendam dalam bathtub wangi. Tebar terapi aromatik lilin dan healing music temani kita dalam cumbuan lembut. Tiada yang tabu katamu. Asal tubuh bersih katamu. Aku setuju. Maka kuceboki pusat kewanitaanmu dengan mulutku seusai kau pipis karena kedinginan oleh AC dan minum air putih. Sensasi tak hanya datang dari kelentit dan labia, katamu. Lembut perlahan kau tuntun aku untuk jilati anusmu yang merah bersih, sama seperti DVD yang pernah kita lihat. Cumbu lembut berlama, selalu antarkan kita pada padang kenikmatan nan luas. Tititku kadang mengeras panjang sepenuh mampu, kadang mengendor, begitu pula hasratku, tapi tanpa terburu-buru bersetubuh itu alangkah melenakannya. Sore telah menggelap, jalan di luar semakin macet. Saat itu maniku tumpah di ujung lidahmu. Ada yang menyusup masuk ke rongga mulut, ada yang menetes basahi payudara indahmu. Wajahmu tampak bersinar, tunjukkan binar matang wanita yang kenali diri dengan baik. Saat itu aku membayangkan kau jadi istriku. Tapi tak kuucapkan karena aku tahu kau tak suka gagasan itu. Panjang langkah kita, hubungan gelap kita, mestinya kau paham bahwa hatiku mengatakan cinta, dengan atau tanpa persetubuhan…