“Jadikan aku lontemu!”

Kau minta aku jadikan kamu sebagai sundal sesaat di ranjang persetubuhan liar. Tidak, kataku. Panggil aku Lonty karena aku lontemu, pintamu. Tidak, kataku. Kau bukan lonte, Tante In sayangku. Ketika aku jelang puncak nikmatku untuk menutup orgasme totalmu yang terakhir, kupindahkan kontolku ke anusmu. Kulakukan lembut, kubisikkan namamu, nama aslinya, sepenuh sayang. Tapi kau masih saja minta dipanggil Lonty. Kau bukan lonte, Tante. Kuteriakkan namamu yang indah saat aku muncratkan mani dalam dubur panasmu.

Tinggalkan Balasan