Perineum itu, ohhhh!

Posted in Encinie, Singgahan hati dengan kaitan (tags) , , , , , , on April 5, 2007 by kemarin/kini/esok

Bersih. Cantik. Perineum itu. Lapangan sempit di antara dubur dan mekimu. Dengan senang hati aku menciumi dan menjilatinya, Enci. Kau pun akan melayang kalau lapangan berisi pemain tunggal yang lincah. Dalam sekejap ice skating ground itu lumer, karena saliva dan lendir Bartholin telah membasahi…

Tiada tabu dalam kebersihan senggama, katamu

Posted in Encinie, Singgahan hati dengan kaitan (tags) , , , , , , , on Maret 30, 2007 by kemarin/kini/esok

Aku datang selagi kau selesai berendam dalam bathtub wangi. Tebar terapi aromatik lilin dan healing music temani kita dalam cumbuan lembut. Tiada yang tabu katamu. Asal tubuh bersih katamu. Aku setuju. Maka kuceboki pusat kewanitaanmu dengan mulutku seusai kau pipis karena kedinginan oleh AC dan minum air putih. Sensasi tak hanya datang dari kelentit dan labia, katamu. Lembut perlahan kau tuntun aku untuk jilati anusmu yang merah bersih, sama seperti DVD yang pernah kita lihat. Cumbu lembut berlama, selalu antarkan kita pada padang kenikmatan nan luas. Tititku kadang mengeras panjang sepenuh mampu, kadang mengendor, begitu pula hasratku, tapi tanpa terburu-buru bersetubuh itu alangkah melenakannya. Sore telah menggelap, jalan di luar semakin macet. Saat itu maniku tumpah di ujung lidahmu. Ada yang menyusup masuk ke rongga mulut, ada yang menetes basahi payudara indahmu. Wajahmu tampak bersinar, tunjukkan binar matang wanita yang kenali diri dengan baik. Saat itu aku membayangkan kau jadi istriku. Tapi tak kuucapkan karena aku tahu kau tak suka gagasan itu. Panjang langkah kita, hubungan gelap kita, mestinya kau paham bahwa hatiku mengatakan cinta, dengan atau tanpa persetubuhan…

Titit tergigit

Posted in Encinie, Singgahan hati dengan kaitan (tags) , , , , , on Maret 23, 2007 by kemarin/kini/esok

Dalam 69 di atas karpet, kegemasanmu datangkan sakit. Kau gigit tititku. Lecet. Aku kesakitan. Rasa perih hanya berkurang kalau ereksi sudah mengendor. Padahal kita ingin bersenggama. Oh Enci nakal!

Satu jari, dua jari, tiga jari

Posted in Singgahan hati, Tantein dengan kaitan (tags) , , , , , on Maret 11, 2007 by kemarin/kini/esok

Pain is so close to pleasure katamu. Oh Tante In. Panjang sudah jalan kita. Kita sama-sama gila. Jelajahi berahi dalam eksperimen jalang. Ketika kau di atas selagi menyetubuhiku, untuk kesekian kalinya jari tengahku menusuk anusmu. Tapi kali itu aku nakal. Kau mengaduh tanpa melarang. Lalu jari telunjuk menemani jari tengah, mengganjal anus. Menjelang orgasmemu tiga jariku sudah bersarang di duburmu. Tidak sampai pol karena posisi tidak memungkinkan. Tapi kurasakan kedut otot itu. Kurasakan kau menikmatinya dalam sakit. Sensasi edan. Tapi di kemudian hari akhirnya kita lakukan anal sex karena kita sama-sama menginginkan sebetulnya, hanya saja takut. ;)

Rumput lembut dalam lembah kewanitaanmu

Posted in Encinie, Singgahan hati dengan kaitan (tags) , , , , , , , on Februari 28, 2007 by kemarin/kini/esok

Helai-helai jembut lurus tipis lembutmu itu, Enciku sayang. Aku menyukainya bahkan setelah nafsu terkuras habis sampai tiada lagi niat untuk bersetubuh. Takkan kulupakan saat kau manjakan aku, boleh tidur di pahamu dalam lelahku, agar wajahku dekat ke memek merah bersih yang baru mandi setelah senggama. Memek merah, labia merah, itil merah yang bersembunyi karena berahi telah usai, helai-helai jembut lurus bagai rumput segar lembut, semuanya pancarkan aroma yang hanya kau punya dan hanya aku yang tahu. Nafsumu bangkit lagi justru setelah aku tertidur. Embusan napasku telah menyapa sisa berahimu, memanggil keluar lendir bening Bartholin, menyembulkan kelentit yang telah dapatkan tenaga kembali. Kau katakan aku yang nakal padahal aku sedang tidur terlelap. Bukankah yang nakal adalah kau, Enci? Titit ngaceng lelaki saat tidur selalu mengundang wanita untuk menjinakkannya, katamu.

Di sana calo dan politikus bersua

Posted in Jajan dengan kaitan (tags) , , , , , , , , on Februari 20, 2007 by kemarin/kini/esok

Paling malas ke sana. Enam lantai tawarkan hiburan dan kenikmatan sepanjang hari, tak kenal malam atau pagi. Di sana, executive lounge, ada saja wajah-wajah partai, wajah-wajah orang DPR, wajah-wajah calo proyek dan calo pilkada. Kegilaan mereka sama: mencari amoy. Jalan Hayam Wuruk, masuk kiri, gang penuh lampu, gotnya jorok dan bau, jangan melintas siang hari karena menjijikkan. Tapi di dalam adalah surga dunia. Maksiat nikmat.

Jadikan aku bayimu, sayang

Posted in Encinie, Singgahan hati dengan kaitan (tags) , , , , , on Februari 1, 2007 by kemarin/kini/esok

Puting merah, payudara putih padat kenyalmu, oh Enci. Aku menyukai itu kadang tanpa nafsu mendidih. Ingin aku sesering mungkin menyusup ke bukit itu untuk menyusu. Kudapatkan ketenangan di sana.

Juga kurindukan ketiakmu yang bersih, kadang berkilat oleh peluh. Ingin kubenamkan wajahku di sana sampai tidur terlelap. Aroma alami ketiakmu, dengan atau tanpa bulu, antarkan aku ke awan putih ketenangan.

Ada damai di sana, dalam lelap tidurku, tanpa berahi menyala. Ereksiku datang setelah aku tidur pulas padahal aku sedang tak larut dalam mimpi nakal.

Ingin aku meminjam puting merah, payudara putih, dan ketiak terentang milikmu untuk kubawa pulang, menemaniku di malam insomnia.

Motel untuk Mbak Lies (2)

Posted in Affair dengan kaitan (tags) , , , , , on Januari 23, 2007 by kemarin/kini/esok

Hari sudah berganti. Satu setengah jam lagi harus check out dari motel enam jam. Kita masih rehat, rebahan di ranjang. Ngobrol. Nonton TV. Film. Berita. Lalu bokep lagi. Adegan anal lagi. Satu lelaki tiga perempuan. Aku terangsang Mbak, kataku. Aku ingin seperti itu. Kupeluk tubuhmu dari belakang. Kuciumi lehermu lalu ketiakmu yang lebat. Kuremas lembut susumu yang membantal. Naluri jantan dan betina bekerja. Ujung kontol akhirnya mendapatkan sudut yang tepat. Kau angkat lututmu, lalu miringkan pinggul. Dari belakang kontolku masuk ke memekmu. Kuelus jembut lebatmu, kumainkan itilmu. Kita tatap cermin di dinding sebelah. Alangkah indahnya. Nafsuku menanjak kala bayangkan kontol masuk dubur. Kau pun rasakan tiba-tiba batangku makin mengeras. Aku ingin anal, bisikku. Jangan, katamu. Anusmu cantik dan enak, kataku. Tidak sakit, rayuku. Lain kali saja, katamu. Tiba-tiba kucabut batangku. Aku mau muncrat. Kau balik badan. Kocok kontolku. Muncrat. Di susumu. Batangku kau gesekkan ke ketiakmu. Sisa mani membasahi bulu ketiak. Aku puas. Tapi tak sepenuhnya puas. Aku inginkan anusmu. Seperti di bokep itu Mbak. Takut, lain kali saja, katamu…

Motel untuk Mbak Lies (1)

Posted in Affair dengan kaitan (tags) , , , , , on Januari 20, 2007 by kemarin/kini/esok

Weekend yang penuh nafsu. Sayang indekosan banyak tamu. Kita keluar saja, Mbak Lies. Nonton. Makan malam. Kuajak kamu ke motel. Pertama kali buatmu. Sudah sering buatmu. Ada cermin besar di sana, kataku. Kau terbelalak — oh aku suka belalak matamu. Ada bokep dua saluran, kataku. Wow! Itu reaksimu. Kita bisa saksikan diri kita sedang main film dari cermin sambil meniru bokep. Merangsang dan bikin penasaran, katamu. Lepas bra itu. Dalam mobil kau lakukan. Lepas celana dalammu. Tak dapat kau lakukan. Dalam macet antrean lampu merah kau kocok kontolku pelan. Kau lakukan yang kau minta. Ludahi telapakmu beberapa kali lalu oleskan ke kontolku dan kocok. Di motel itu kau duduk di ranjang, agak canggung. Kucumbu dirimu sambil menonton bokep. Aku sudah telanjang. Kau juga. Bokep tampilkan anal. Pol. Keluar masuk. Aku ingin. Takut katamu. Lalu aku telentang. Kau setubuhi aku sambil lihat cermin. Gerakanmu. Goyang ayun tetekmu. Kuminta kau jilati ketiakmu yang berjembut lebat lalu jilati putingmu. Kau lakukan menjelang orgasme. Tak lama aku sudah merasa akan muncrat. Aku lagi subur katamu. Berikan aku lubang yang lain, pintuku. Sekarang Mbak, seruku. Kau angkat tubuhmu, pindah posisi, dengan cepat membungkuk, masukkan kontol ke mulut. Kau isap. Muncratlah aku. Tak ada kemesraan. Seperti bersetubuh dengan lonte.

Dari arisan, tagihan HP, tagihan kartu kredit

Posted in Affair dengan kaitan (tags) , , , , , on Januari 12, 2007 by kemarin/kini/esok

Oh, Mbak Lies! Dunia ini berisi tagihan rupanya. Dari operator masih ada padahal kau sudah pakai prabayar. Tapi esok hari arisan dan harus bayar karena kau sudah ambil duluan. Lalu tagihan Master Card. Akan kubantu sebisaku, kataku. Pinjam dulu, katamu. Bayarnya nanti kalau ada rezeki, lanjutmu. Kutenangkan dirimu. Lalu kita berciuman. Bercumbu. Bersetubuh. Berikan sesuatu yang luar biasa malam ini, kataku. Apapun yang kuminta akan kau berikan, itu janjimu dalam bisik tanggapan. Malam itu kutumpahkan maniku ke wajahmu. Facial yang nikmat.